BP3IP Jakarta

BP3IP MEMBERIKAN PENYULUHAN KESELAMATAN PELAYARAN PADA MASYARAKAT NELAYAN DI MARUNDA DAN MUARA BARU JAKARTA UTARA

Dalam rangka meningkatkan kesadaran akan keselamatan dalam pelayaran, Balai Besar Pendidikan Penyegaran dan Peningkatan Ilmu Pelayaran (BP3IP) Jakarta bekerjasama dengan Kantor Kesyahbandaran Otoritas Pelabuhan Marunda dan Muara Baru di Jakarta Utara mengadakan kegiatan pengabdian masyarakat tentang penyuluhan keselamatan pelayaran pada masyarakat nelayan marunda dan muara baru pada tanggal 18 sampai dengan 19 Desember 2018. Dalam sambutannya Eko Sudarmanto, M.Pd, M.Mar.E yang mewakili Direktur BP3IP mengapresiasi nelayan yang penuh semangat untuk datang dalam kegiatan ini dan semoga dalam penyuluhan ini para nelayan mendapatkan pengetahuan yang berguna saat berlayar diatas kapal. Keselamatan itu sangat penting peralatan secanggih apapun tidak akan menyelamatkan kita bila kita tidak mengetahui cara penggunaannya dan cara memanfaatkannya apalagi dalam kapal kapal nelayan sering dijumpai kurangnya peralatan keselamatan karena kurang sadarnya pemilik kapal dan awak kapal itu sendiri. Dalam kegiatan ini juga dihadiri Kepala KSOP Kelas V Marunda, Yuserizal, M.MTr, beliau mengatakan bahwa acara yang bertujuan untuk memberikan pengetahuan tentang keselamatan pelayaran ini diikuti oleh sebanyak 50 orang nelayan serta dihadiri oleh Suku Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan dan Pertania (KPKP) Jakarta Utara.

“Pada penyuluhan tersebut, para nelayan diberikan penjelasan mengenai pentingnya penggunaan alat-alat keselamatan yang ada diatas kapal,” ungkap Yuserizal saat membuka Penyuluhan Keselamatan Pelayaran di Pelabuhan Marunda.

Antusias nelayan yang mengikuti penyuluhan ini bisa dilihat dalam interaksi kegiatan dimana nelayan aktif dalam memberikan pertanyaan dan pengalaman mereka saat diatas kapal seperti yang dituturkan oleh Bapak Surianto 51 thn Nelayan Marunda, dia menceritakan bagaimana alat keselamatan diatas kapal nelayannya yang sangat minim seperti life jacket yang tidak mencukupi untuk awak kapal yang berjumlah 20 orang, bila terjadi keadaan darurat biasanya mereka menggunakan jerigen untuk pelampung, hal ini ditanggapi oleh Capt. Aris Jamaan, M.Mar bahwa hal tersebut tidak bisa dibenarkan karena tidak sesuai dengan peraturan keselamatan yang berlaku, hal ini bisa dirubah bila pola pikir nelayan akan keselamatan dirubah dengan banyak mengikuti penyuluhan keselamatan sepperti sekarang ini dan mengupayakan peralatan keselamatan diatas kapal  yang sesuai standar keselamatan yang telah ditetapkan.

Pertanyaan lain dari bapak selamet 52 tahun mengeluhkan tentang jaring yang ditebar tersangkut kapal niaga bagaimana penanganan ganti ruginya, dijawab oleh Capt. Aris Jamaan selaku narasumber bahwa hal demikian merugikan kedua belah pihak, pihak nelayan rugi jaring yang tersangkut baling baling kapal niaga, sedangkan pemilik kapal niaga rugi karena harus memperbaiki baling baling yang rusak sehingga menghambat proses pengiriman barang, hal ini bisa dihindari bila nelayan mengetahui alur jalur pelayaran yang biasa digunakan oleh kapal kapal niaga.

Dalam penyuluhan ini, BP3IP menghadirkan 6 (enam) orang perwira siswa  yang sedang mengikuti diklat di BP3IP atau disebut Pasis, untuk berbagi pengalaman dan menceritakan suka duka selama berlayar di atas kapal terutama dalam kapal niaga dan menerangkan bahwa antara kapal niaga dan kapal nelayan untuk peralatan keselamatan secara umum adalah sama, yang membedakan hanya sekoci dan peralatan elektronik  yang lebih canggih seperti GPS, Satelite Radio, Radar dll.

Pada hari berikutnya BP3IP juga menyelenggarakan penyuluhan keselamatan pelayaran pada masyarakat nelayan muara baru jakarta utara, Acara diisi oleh Eko Sudarmanto, M.Pd, M.Mar.E mewakili direktur BP3IP dan Eidy Sutrisno Hadji Djafar, M.MTr selaku kepala KSOP Muara baru, disini para Instruktur BP3IP juga menjelaskan akan arti penting keselamatan dan penggunaan alat alat kelematan.

Yang menarik dalam kegiatan ini adalah BP3IP juga menghadirkan 3 (tiga) orang perwira siswa/pasis untuk turut menerangkan dan mempraktekkan alat alat keselamatan dan proses evakuasi bila terjadi keadaan darurat. Yang menarik lagi adalah pernyataan dari bapak Taufik 47 tahun dia menceritakan tentang pengalamannya saat membantu pengungsi dari timur tengah yang kehabisan bekal makanan, bahan bakar dan ada yang sakit saat mencari suaka ke Australia. Pak taufik menanyakan bagaimana prosedurnya karena dia mau menolong tapi para pengungsi itu tidak mau dibawa ke daratan karna takut ditangkap oleh pihak Imigrasi Pemerintah Indonesia. Hal ini dijawab oleh Darwis, M.Si, M.Mar.E selalu narasumber bahwa sesama manusia wajib memberikan pertolongan dengan melihat keamanan dan keselamatan diri sendiri terlebih dahulu. Untuk pengungsi yang sakit keras harus segera dibawa ke rumah sakit di daratan terdekat lalu melapor ke Syahbandar dan diteruskan ke bagian Imigrasi untuk didata. Tapi bila mereka menolak dibawa ke daratan Indonesia cukup memberikan kebutuhan yang mereka perlukan sesuai kemampuan yang ada seperti makanan, bahan bakar, obat-obatan dll.

Kegiatan ini ditutup dengan acara photo bersama dan pembagian souvenir untuk kenang kenangan.