BP3IP Jakarta

Bon Voyage ke - XXX

Bon Voyage ke - XXX Ahli Nautika Tingkat I dan Ahli Teknika Tingkat I BP3IP Jakarta dilaksanakan pada hari Rabu, 15 Oktober 2014. Acara bertempat di Balai Samudera, Kelapa Gading, Jakarta Utara. Bon Voyage kali ini diikuti oleh 129 peserta dari Diklat Pelaut Tingkat–I Nautika dan 118 Peserta dari Diklat Pelaut Tingkat I Teknika.

Plt. Menteri Perhubungan, DR. Bambang Susantono, selaku Inspektur Upacara dalam sambutannya menyampaikan bahwa pemerintahan kedepan memperioritaskan orientasi pembangunan Indonesia sebagai poros maritim yang didukung oleh momentum yang sangat bagus dimana indonesia akan mendapatkan Bonus Demografi pada tahun 2028,  penduduk Indonesia akan mencapai angka 300 juta orang dimana mayoritas dari jumlah tersebut sebanyak 200 juta orang adalah usia produktif. Kesempatan ini memberikan peluang untuk mencapai tujuan dan prioritas pembangunan dimaksud karena diharapkan sebagian besar dari jumlah penduduk usia produktif tersebut akan berprofesi pada bidang-bidang yang terkait dan mendukung terwujudnya Indonesia sebagai poros maritim, salah satunya adalah profesi sebagai pelaut.

Fakta itulah yang dipandang sebagai potensi untuk membangun Indonesia yang hebat pada masa mendatang, salah satunya dengan mengoptimalkan potensi kelautan yang nantinya diharapkan bukan saja memajukan perekonomian Indonesia, namun juga akan terjadi pemerataan pertumbuhan ekonomi, caranya melalui pembangunan perekonomian Indonesia dengan memanfaatkan sumber daya maritim. Untuk mewujudkan gagasan poros maritim dunia itu perlu difokuskan setidaknya pada tiga strategi dasar.

Pertama, kesiapan sumber daya manusia. hal ini perlu dimulai dengan melakukan pengarusutamaan wawasan bahari ke dalam proses pendidikan. indonesia juga perlu menyiapkan keahlian di berbagai bidang kelautan, mulai dari yang bersifat teknis, teknologi, sampai ahli-ahli strategi dan hukum laut internasional. Pada level yang lebih strategis, bangsa indonesia juga perlu memperkuat kesadaran lingkungan maritim (maritime domain awareness / mda).

Kedua, wawasan bahari dan maritime domain awareness (mda) perlu ditopang dan dituangkan dalam determinasi untuk melakukan penguatan infrastruktur maritim. Fokus pada pembangunan infrastruktur ini sudah tertuang dalam rencana kerja agenda pembangunan pemerintahan kedepan.

Ketiga, pembangunan maritim perlu biaya yang besar, ketersediaan teknologi yang cukup dan waktu yang panjang, sehingga sulit rasanya membayangkan semua itu dapat dilakukan oleh Indonesia secara mandiri.

Tantangan dalam menjalankan ketiga strategi itu tentunya tak mudah untuk diatasi. Namun, Indonesia tidak memiliki pilihan lain, kecuali segera mengambil dan memulai upaya untuk mengembalikan jati dirinya sebagai negara kepulauan, yang berada di antara dua samudera.

Dalam rangka mencapai tujuan diatas kita secara bersama-sama perlu meningkatkan aspek-aspek terkait salah satunya adalah pendidikan sumber daya manusia transportasi khususnya transportasi laut. Proses pendidikan dan pelatihan yang selama ini diterima  perlu senantiasa dipegang teguh para lulusan. Penyelenggaraan pendidikan dan pelatihan ini diharapkan dapat memenuhi 4 (empat) kriteria kompetensi yaitu kompetensi akademik, kompetensi profesional, kompetensi nilai dan sikap, serta kompetensi untuk menghadapi perubahan.

Pertama, kompetensi akademik berkaitan dengan kiat dan kemampuan metodologis-keilmuan dalam rangka penguasaan dan pengembangan ilmu dan teknologis, mengingat kompetensi akademik ini amat penting artinya bagi pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi sehingga dihasilkan pemikiran yang berbuah konsep dan program-program inovatif.

Kedua, kompetensi profesional berkaitan dengan wawasan perilaku dan kemampuan penerapan ilmu dan teknologi dalam realitas kehidupan kompetensi profesional inilah yang menghasilkan manusia yang andal.

Ketiga, kompetensi nilai dan sikap berkaitan dengan kemampuan untuk selalu menempatkan segala persoalan dalam kerangka nilai-nilai budaya serta iman dan taqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. Kompetensi ini merupakan bingkai dari kompetensi sebelumnya, sehingga menjadi lebih bermakna baik dalam konteks kepentingan masyarakat banyak maupun dalam konteks pengabdian kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Keempat, kompetensi untuk menghadapi perubahan, yakni kemampuan untuk memahami makna dan hakikat suatu perubahan, kemampuan untuk mengantisipasi arah dan kecenderungan perubahan serta kemampuan mengelola dan memanfaatkan perubahan tersebut untuk mencapai keunggulan.

Selamat dan appreciate kepada para peserta Bon Voyage dan terus memelihara profesionalisme  dan  safety culture.